keterangan judul

Anda Belajar Kamipun Belajar
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Ilmu. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2012

Metode Pendekatan

1. Pendekatan Psikologis
Pendekatan ini tekanannya diutamakan pada dorongan yang bersifat persuasif dan motivatif, yaitu suatu dorongan yang mampu menggerakkan daya kognitif, konatif dan afektif.
2. Pendekatan Sosio-kultur
Pendekatan ini lebih ditekankan pada usaha pengembangan sikap pribadi dan sosial sesuai dengan tuntutan masyarakat yang berorientasi kepada kebutuhan hidup yang makin maju dalam berbudaya dan berperadapan.
3. Pendekatan Religik
Yakni suatu pendekatan yang membawa keyakinan (aqidah) dan keimanan dalam pribadi anak didik yang cenderung kearah komprehensif intensif dan ekstensif (mendalam dan meluas).
4. Pendekatan Historis
Ditekankan pada usaha pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai keagamaan melalui proses kesejarahan.
5. Pendekatan Komparatif
Pendekatan yang dilakukan dengan membandingkan suatu gejala sosial keagamaan dengan hukum agama yang ditetapkan selaras dengan situasi dan zamannya.
6. Pendekatan Filosofis
Yaitu pendekatan yang berdasarkan tinjauan falsafah. Pendekatan demikian cenderung kepada usaha mencapai kebenaran dengan mamakai akan atau rasio.

D. Prinsip-prinsip Umum dalam Proses Belajar dan Mengajar Agama di Pondok Pesantren
Prinsip-prinsip umum belajar dan motifasi yang perlu ditetapkan dalam pondok pesantren yaitu:
1. Prinsip Kebermaknaan
Prinsip ini menghendaki bahwa anak didik akan terdorong untuk mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
2. Prinsip Prasyarat
Prinsip ini menuntut pendidik untuk menyadari bahwa anak didik akan tergerak untuk mempelajari hal-hal baru bila ia memiliki semua prasyarat yaitu mengaitkan pengetahuan yang dimiliki anak didik dengan yang dimiliki oleh pendidik. 
3. Prinsip-prinsip Model
Prinsip ini menghendaki agar pendidik memberikan dalam proses belajar model/contoh yang dapat diamati atau ditiru oleh anak didik. Dengan demikian, ia akan berusaha memiliki tingkah laku yang baru sebagai yang diterapkan oleh pendidik dalam model/contoh tersebut.
4. Prinsip Komunikasi Terbuka
Prinsip tersebut menuntut agar pendidik mendorong anak didik lebih banyak mempelajari sesuatu dengan cara penyajian yang disusun sedemikian rupa sehingga pesan-pesan pendidik terbuka bagi anak didik.
5. Prinsip Kebaruan
Anak didik akan lebih banyak belajar bilamana minat/perhatiannya tertarik oleh penyajian-penyajian yang relatif baru.
6. Prinsip Praktek Aktif
Prinsip praktek akrif yaitu anak akan dapat belajar lebih baik bilamana ia diikutsertakan dalam praktek.
7. Prinsip Praktek Terbuka
Anak didik akan belajar lebih baik dan giat bilamana pelajaran praktek tersebut disusun dalam periode yang singkat yang didistribusikan dalam jangka waktu tertentu.
8. Prinsip Mengurangi Petunjuk
Seorang anak didik akan lebih baik dalam belajarnya bilamana instruksi (perintah) atau petunjuk semakin dikurangi dan dihapuskan.

Jumat, 09 Desember 2011

Tradisi Santri Dalam Historigrafi Jawa


Salah satu hasil proses Islamisasi di Jawa yang cukup penting adalah lahirnya unsur tradisi
keagamaan Santri dalam kehidupan sosio-kultural masyarakat Jawa. Tradisi keagamaan
Santri ini bersama dengan unsur Pesantren dan Kyai telah menjadi inti terbentuknya Tradisi
Besar (Great Tradition) Islam di Jawa, yang pada hakekatnya merupakan hasil akulturasi
antara Islam dan tradisi pra-Islam di Jawa. Selain itu, Islamisasi di Jawa juga telah
melahirkan sebuah tradisi besar Kraton Islam-Jawa, yang menjadikan keduanya, yaitu tradisi .Santri dan tradisi Kraton, sebagai bagian (subkultur) yang tidak dapat dipisahkan dari
kebudayaan Jawa.
H.J.Benda, menyebutkan bahwa proses Islamisasi di Jawa telah melahirkan peradaban santri
(santri civilization), yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan agama, masyarakat dan
politik [1]. Sementara Clifford Geertz memandang kehadiran Islam di Jawa telah
menyebabkan terbentuknya varian sosio-kultural masyarakat Islam di Jawa yang disebut
Santri, yang berbeda dengan tradisi sosio-kultural lainnya, yaitu Abangan dan Priyayi [2].
Tradisi sosiokultural Santri ditandai dengan wujud perilaku ketaatan para pendukungnya
dalam menjalankan ibadah agama Islam yang sesuai dengan ajaran syari’at agama,
sementara tradisi Abangan, ditandai dengan orientasi kehidupan sosio-kultural yang berakar
pada tradisi mistisisme pra-Hindu, dan tradisi Priyayi lebih ditandai dengan orientasi
kehidupan yang berakar pada tradisi aristokrasi Hindu-Jawa

Baik Geertz, Benda maupun para ahli Islam di Jawa lainnya, sependapat bahwa tradisi Santri
dan kepemimpinan Kyai atau ulama merupakan unsur kebudayaan Islam-Jawa yang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika kehidupan agama, sosial dan politik dalam masyarakat
Jawa dan Indonesia. Kecenderungan ini berlangsung secara berkelanjutan dari masa
tradisional sampai dengan masa kononial dan masa Indonesia merdeka. Tidak lain, karena
tradisi Santri dan Kyahi, bukan hanya menjadi segmen sosial-kultural, melainkan juga
menjadi basis kekuatan sosial dan politik. Dari perspektif historis dapat ditunjukkan bahwa
tradisi Santri secara berkelanjutan telah menjadi basis kekuatan sosial politik pada masa awal
pendirian kerajaan Islam Demak, Cirebon dan Banten di daerah pesisir utara Jawa dan pada
masa kerajaan Mataram Islam di daerah pedalaman Jawa.

komentar pembaca

Kulo Aturi Komen

Pengikut